Langsung ke konten utama

Catatan Pagiku Tentang Mencintaimu


Mungkin terdengarnya, ini terlalu awal untuk diucapkan.
Tetapi, dalam 3 hari terakhir setidaknya, sudah beberapa kali aku merasakan, bahwa mungin aku tak akan bisa hidup tanpamu.
Tanpa mencintaimu. Walau sekejap saja.

Beberapa tahun lalu, kita memulai ini tanpa letupan cinta seperti yang dialami remaja.
Aku menilai, caramu mencintai begitu sederhana dan tak terlihat mengada-ngada.
Kamu tak memasang satu standar tertentu, bahwa mencintai seharusnya seperti ini, atau seperti itu.
Kamu mencintai dengan caramu seharusnya mencintai.
Dan kamu ingin dicintai, sebagaimana cinta itu semestinya mencintai.

Pagi lalu, ketika aku terjaga dan menemukanmu di sebelahku.
Aku telah merasakan momen terbaik dalam hidupku.
Dan aku berani bertaruh apapun, untuk menemukan pagi yang sama lagi seperti kemarin.
Tentu, dengan keberadaanmu.

Aku tak tahu apa yang akan terjadi di waktu mendatang.
Terkadang, ketakutan itu muncul, bahwa perjalanan yang panjang ini akan diselipi beberapa luka.
Namun, tahukah kamu, bahwa sesungguhnya, aku tak pernah mencintai seseorang sebesar ini.
Sedemikian besarnya hingga aku tak punya pilihan kata  yang tepat untuk menggambarkannya.

Seperti yang kita tahu, tak ada yang sempurna di dunia ini.
Tidak kamu, dan tidak juga aku.
Namun, aku akan tetap mencintaimu.
Meski ini sepertinya terlalu awal untuk diucapkan.
Tetapi tetap saja...
...aku merasa bahwa aku tak akan bisa hidup tanpamu.

Komentar

Pos populer dari blog ini

Curhat Cinta. Cinta Yang Tua.

I owe the picture here

Ini curhat nyeleneh...
Sebuah curhat tentang cinta yang sudah tua.
Karena kamu sudah menciptakan banyak kenangan baru.
Sedangkan kenanganku masih itu-itu saja.

Apa sebutan bagi orang yang tak pernah benar-benar bisa melepaskan masa lalunya?
Gagal move on?
Ah, tak pernah ada yang benar-benar berhasil di dunia ini.
Mereka yang menggenggam hari baru, sesungguhnya tak betul-betul sukses melupakan, tapi hanya mengendapkan perasaan.

Anggap saja ini nostalgia.
Nostalgia yang menghadirkan romansa.
Namun kamu terdiam dalam jutaan harap serupa gemintang.
Membuat hatiku ciut.
Jangan-jangan malamku akan selalu sama.
Ditelan sedih lagi.
Diakhiri mimpi lagi.

Aku ini... bisa jadi hanyalah bintang jatuh.
Diucap bagai doa, tapi tak pernah jadi siapa-siapa.
Dan kamu itu apa ya?
Oh! Kotak mimpi tempat aku menaruh ingin.
Bukankah untuk menggapai sesuatu yang tinggi, seringkali kita diajarkan bermimpi?
Karena mimpi adalah sebebas-bebasnya harap boleh tercipta.
Kita tak perlu berhut…

Cinta dan Rahasia (sebuah nukilan dalam buku Glenn Fredly 20)

Tulisan ini diambil dari cerpen Cinta dan Rahasia yang saya tulis dalam buku Glenn Fredly 20. Semoga pada akhirnya, bahagia adalah kata terakhir yang akan cinta berikan kepada kita.


Rasanya aku jatuh cinta lagi. Undanganmu hanya sebuah pesan singkat yang terkirim lewat layanan chatting gratis. Halamannya bersih tanpa pernak-pernik. Hanya ada latar berwarna lembut dengan barisan tulisan font default warna hitam. Sederhana. Apa adanya. Tapi entah kenapa, rasanya seperti mendapat surat cinta paling indah. Yang baunya harum dan tulisannya berukir serta diselipi setangkai mawar merah.
Aku cuma mau ketemu berdua. Duduk yang lama.  Mandangin hujan yang lama. Aku sedang butuh waktu untuk menyepi. Kamu mau kan nemenin?
Kau tak perlu bertanya sebetulnya. Kau sudah tahu jawabannya. Aku akan mengiyakan permintaanmu. Apapun itu. Belum apa-apa, sudah kubayangkan indahnya pergi berdua. Tak ada kebersamaan lain yang sepadan. Tak perlu hal-hal lain menjadi pelengkap. Makanan enak, musik yang bagus, kamar yan…

Ruang Di Sela-Sela Jariku

I owe the picture here
Kau tahu mengapa Tuhan menciptakan ruang di sela-sela jarimu?
Karena Tuhan akan mengirim seseorang untuk mengisi ruang tersebut.
Menggenggam jemarimu suatu saat.

Mendekatlah, telah kusiapkan pelukan terhangat ketika kau pulang.
Kau tak perlu menjamin kebahagiaanmu.
Seperti aku yang tak mampu memberikan bahagia yang terlampau sempurna.
Karena aku hanya punya sebuah janji sederhana.
Kesediaan untuk ikut menangis bersamamu ketika kau bersedih.
Atau luapan kegembiraan atas kemenanganmu.

Kau tahu kenapa kita selalu butuh rumah?
Karena dari sana lah cinta bermula.

Dan seperti perjalanan panjang yang berakhir dengan pulang.
Seperti itu lah seharusnya cinta.
Aku yang menunggumu di muka pintu.
Dan langkah kakimu yang menuju kepadaku.

Sini, telah kusiapkan sebelah genggaman tangan untukmu.
Seperti cinta yang Tuhan kirimkan pada ruang di sela-sela jariku.
Hanya kau yang mampu memenuhinya...